Refleksi tentang Motivasi, Makna, dan Peran Guru
dalam Membangun Kembali Kegembiraan Belajar
Oleh
Albertus Yosef Daventus, S.Pd

Mengajar bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi membangkitkan keinginan untuk belajar.”
Kalimat itu terus terngiang dalam pikiran saya setiap kali selesai mengajar. Di tengah berbagai tuntutan
kurikulum, target capaian pembelajaran, dan beragam administrasi yang harus diselesaikan, saya justru
menemukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Mengapa sebagian siswa tampak kehilangan semangat untuk belajar?
Pertanyaan ini lahir bukan karena saya ingin mencari siapa yang salah. Sebaliknya, pertanyaan ini
mengajak saya untuk terlebih dahulu merefleksikan diri sebagai seorang guru. Mungkin persoalan yang
kita hadapi hari ini bukan semata-mata persoalan kemampuan akademik siswa, melainkan persoalan
yang lebih dalam: hilangnya motivasi untuk belajar.
Realitas di sekolah menunjukkan gejala yang hampir serupa. Ada siswa yang masih belum lancar
membaca sehingga harus mengulang beberapa kata untuk memahaminya. Ada yang kesulitan
menceritakan kembali isi bacaan meskipun baru saja selesai membacanya. Ketika guru mengajukan
pertanyaan, kelas sering kali sunyi, bukan karena semua sedang berpikir, melainkan karena tidak ada
yang berani mencoba menjawab.

Di kelas lain, kita menjumpai siswa yang lebih memilih menyalin jawaban temannya daripada berusaha
menyelesaikan soal sendiri. Ada yang segera berkata, “Saya tidak tahu, Pak,” padahal ia belum benarbenar mencoba berpikir. Dalam diskusi kelompok, hanya satu atau dua siswa yang aktif, sedangkan yang
lain menjadi penonton. Tugas diselesaikan sekadar memenuhi kewajiban. Ketika menghadapi soal yang
sedikit lebih menantang, sebagian siswa memilih menyerah sebelum berusaha.
Bahkan, tidak sedikit guru yang merasakan bahwa menjelaskan materi selama empat puluh lima menit
seolah tidak meninggalkan jejak dalam ingatan siswa. Esok harinya, materi yang baru dipelajari terasa
seperti belum pernah dibahas.
Jika kita jujur, mungkin hampir semua guru pernah menjumpai situasi seperti ini.
Lalu, apakah semua itu terjadi karena siswa malas?
Saya tidak yakin sesederhana itu.
Saya justru percaya bahwa setiap anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu. Anak kecil belajar
berjalan berkali-kali jatuh tanpa pernah diajarkan tentang pentingnya motivasi. Mereka terus mencoba
karena memiliki dorongan alami untuk berkembang. Jika kemudian di sekolah kita menjumpai siswa yang
kehilangan semangat belajar, barangkali yang perlu kita tanyakan bukanlah “Mengapa mereka malas?”,
melainkan “Apa yang membuat mereka berhenti ingin belajar?
Pertanyaan inilah yang membawa saya pada sebuah refleksi bahwa motivasi belajar bukan sesuatu yang muncul dengan sendirinya. Motivasi tumbuh ketika siswa merasa mampu, memahami makna dari apa yang dipelajarinya, merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan, dan memiliki hubungan yang baik dengan gurunya. Karena itu, untuk memahami persoalan motivasi belajar secara lebih utuh, kita perlu melihat beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab siswa kehilangan dorongan untuk belajar.
Ketika Siswa Tidak Lagi Merasa Mampu

Bayangkan seorang siswa yang sejak jenjang sebelumnya selalu mengalami kesulitan membaca. Setiap
kali diminta membaca nyaring, ia keliru melafalkan kata-kata tertentu. Teman-temannya tertawa,
sementara guru mungkin tanpa disadari lebih sering menunjuk siswa yang lebih lancar.
Sedikit demi sedikit ia belajar satu hal: bukan tentang membaca, tetapi tentang sebuah kegagalan. Lamakelamaan ia mulai menghindari kontak mata dengan guru ketika diminta membaca. Ia memilih
menunduk. Ia berharap namanya tidak dipanggil. Dari luar, perilaku itu mungkin tampak sebagai
kemalasan atau ketidakpedulian. Namun bisa jadi, itu adalah cara siswa melindungi dirinya dari
pengalaman gagal yang terus berulang.
Psikolog Albert Bandura menyebutnya sebagai self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap
kemampuannya untuk berhasil. Ketika keyakinan ini rendah, seseorang cenderung menghindari
tantangan karena merasa usahanya tidak akan membuahkan hasil.
Mungkin, yang lebih dibutuhkan siswa seperti ini bukanlah teguran agar lebih rajin, melainkan
Ketika Siswa Tidak Melihat Makna dari Apa yang Dipelajarinya
Suatu hari, seorang guru menjelaskan struktur teks editorial secara sistematis. Penjelasannya runtut,
contoh-contohnya lengkap, dan para siswa mencatat dengan rapi. Namun, di balik semua itu, sebagian
siswa mungkin menyimpan pertanyaan yang tidak pernah mereka ucapkan.

“Untuk apa saya mempelajari ini?”
“Apa hubungannya dengan kehidupan saya?”
Jika pertanyaan itu tidak pernah terjawab, maka materi kehilangan maknanya. Belajar berubah menjadi
aktivitas menghafal, bukan memahami.
Bayangkan jika pembelajaran dimulai dengan cara yang berbeda. Guru memperlihatkan sebuah
unggahan di media sosial yang memicu perdebatan publik, kemudian bertanya,
“Mengapa sebuah tulisan dapat memengaruhi cara berpikir begitu banyak orang?”
Pertanyaan sederhana itu membangkitkan rasa ingin tahu. Dari sanalah pembelajaran tentang
argumentasi, opini, atau teks editorial menjadi memiliki konteks yang nyata.
Belajar bukan lagi sekadar memenuhi tuntutan kurikulum, melainkan menemukan jawaban atas
pertanyaan yang memang ingin diketahui siswa
Ketika Proses Belajar Belum Menjadi Pengalaman yang Menggembirakan
Sering kali kita menyamakan pembelajaran yang menyenangkan dengan pembelajaran yang penuh
permainan. Padahal, kegembiraan belajar memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Kegembiraan muncul ketika siswa merasa aman untuk bertanya, tidak takut melakukan kesalahan, dan
yakin bahwa setiap usaha akan dihargai. Bayangkan seorang siswa yang hari itu akhirnya berani
membaca satu paragraf meskipun masih terbata-bata. Jika guru mengapresiasi keberaniannya, siswa
tersebut pulang dengan perasaan bahwa dirinya mampu berkembang. Sebaliknya, jika kesalahannya
langsung menjadi bahan koreksi di depan teman-temannya, ia mungkin memilih diam pada kesempatan
berikutnya.
Sering kali yang diingat siswa bertahun-tahun bukan isi pelajaran, melainkan bagaimana perasaan
mereka ketika berada di dalam kelas. Mungkin inilah sebabnya mengapa kegiatan pendahuluan menjadi
sangat penting. Lima atau sepuluh menit pertama bukan sekadar waktu untuk mengucapkan salam,
memeriksa kehadiran, atau menyampaikan tujuan pembelajaran. Saat itulah guru sedang membangun
suasana psikologis yang akan menentukan apakah siswa siap membuka pikirannya atau justru menutup
diri.
Ketika Hubungan Antara Guru dan Siswa Belum Benar-Benar Terbangun
Ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian kita dalam proses pendidikan. Siswa sering kali belajar
bukan semata-mata karena mereka menyukai suatu mata pelajaran, melainkan karena mereka merasa
dihargai dan diterima oleh gurunya. Seorang guru yang mengenal nama siswanya, menyapa dengan
hangat, mendengarkan pendapat mereka, memberikan ruang untuk mencoba, serta menunjukkan
keyakinan bahwa setiap anak memiliki kemampuan untuk berkembang, sesungguhnya sedang
membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan akademik. Guru tersebut sedang
menumbuhkan kepercayaan, sebuah fondasi penting yang membuat siswa merasa aman, dihargai, dan
memiliki keberanian untuk belajar. Dari kepercayaan itulah perlahan tumbuh rasa percaya diri, motivasi,
dan kemauan untuk terus berkembang dalam diri setiap peserta didik.

Keempat hal tersebut menunjukkan bahwa hilangnya motivasi belajar siswa bukanlah persoalan yang
sederhana. Di balik sikap pasif, keengganan mencoba, atau rendahnya keterlibatan dalam pembelajaran,
sering kali terdapat pengalaman dan perasaan yang perlu kita pahami sebagai pendidik. Karena itu,
upaya membangun kembali semangat belajar siswa tidak cukup hanya dengan memperbaiki metode
mengajar, tetapi juga perlu dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana kita dapat membuat
siswa kembali memiliki keinginan untuk belajar?
Sebelum Mengajarkan Materi, Mari Membangkitkan Keinginan untuk Belajar
Refleksi ini membawa saya pada sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sesungguhnya sangat
mendalam. Selama ini, mungkin kita sebagai guru lebih sering bertanya, “Bagaimana saya
mengajarkan materi ini?” Padahal, ada pertanyaan yang barangkali jauh lebih penting untuk
direnungkan, yaitu “Bagaimana saya membuat siswa ingin belajar hari ini?” Perubahan cara
bertanya tersebut akan membawa perubahan besar dalam cara kita merancang dan melaksanakan
pembelajaran. Kita tidak lagi hanya berfokus pada bagaimana menyelesaikan materi sesuai target
kurikulum, tetapi mulai memikirkan bagaimana membangun rasa ingin tahu, menumbuhkan keberanian,
dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Pada akhirnya, pembelajaran yang berhasil bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang
mampu disampaikan guru, melainkan tentang sejauh mana siswa memiliki dorongan dari dalam dirinya
untuk terlibat dalam proses belajar. Sebab, pengetahuan akan lebih mudah diterima oleh siswa yang
memiliki rasa ingin tahu, merasa dihargai, dan percaya bahwa dirinya mampu berkembang. Karena itu,
sebelum mengajarkan berbagai konsep, teori, atau keterampilan, hal pertama yang perlu kita bangun
adalah keinginan siswa untuk belajar.
Rendahnya motivasi belajar tentu bukan menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia semata. Setiap
mata pelajaran membutuhkan kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan
masalah, dan mengomunikasikan gagasan. Oleh karena itu, membangun motivasi belajar harus menjadi
gerakan bersama seluruh warga sekolah. Semua guru memiliki peran untuk menciptakan lingkungan
belajar yang mendorong siswa merasa nyaman, dihargai, dan terdorong untuk terus berkembang.
Gerakan tersebut dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam keseharian kita sebagai pendidik.
Menyambut siswa dengan hangat ketika mereka memasuki ruang kelas, mengawali pembelajaran
dengan pertanyaan yang mampu menggugah rasa ingin tahu, memberikan apresiasi terhadap proses
dan usaha yang mereka lakukan, memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya tanpa takut disalahkan,
serta membantu mereka merasakan keberhasilan-keberhasilan kecil dalam perjalanan belajarnya. Halhal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila dilakukan secara konsisten oleh seluruh guru,
dampaknya akan sangat besar terhadap sikap dan motivasi belajar siswa.
Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya dapat diukur dari seberapa banyak materi yang
telah diselesaikan atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh siswa. Keberhasilan yang sesungguhnya
terlihat ketika semakin banyak siswa yang berani membaca, berani bertanya, berani menyampaikan
pendapat, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, dan meninggalkan sekolah dengan
keyakinan bahwa belajar merupakan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Mungkin inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan,
tetapi juga menumbuhkan harapan. Guru bukan hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga
membangun kepercayaan diri. Guru bukan hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi juga
menyalakan kembali semangat belajar yang mungkin pernah redup dalam diri peserta didik. Ketika
semangat itu kembali menyala, pengetahuan akan menemukan jalannya, karena siswa yang memiliki
keinginan untuk belajar akan selalu menemukan alasan untuk terus bertumbuh.
Tim Publikasi PGRI MABAR
