
Labuan Bajo, 22 Juli 2026 – PGRI Kabupaten Manggarai Barat dan Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat secara resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai wujud komitmen bersama dalam memperkuat pendidikan demokrasi serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan penyelenggaraan pemilu. Penandatanganan berlangsung di Labuan Bajo dan dihadiri jajaran Pengurus Harian PGRI serta Komisioner Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam membangun kolaborasi antara penyelenggara pengawas pemilu dan insan pendidikan. PGRI dipandang sebagai mitra yang memiliki jangkauan luas hingga ke sekolah-sekolah dan masyarakat, sehingga diharapkan mampu menjadi penghubung dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi, integritas, serta budaya pengawasan partisipatif kepada generasi muda.
Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat menegaskan bahwa kemitraan tersebut lahir dari semangat kolaborasi untuk membangun demokrasi yang lebih berkualitas melalui dunia pendidikan.

“Kerja sama ini dibangun atas dasar semangat kolaborasi dan sinergi dengan PGRI sebagai organisasi profesi yang memiliki peran strategis di dunia pendidikan. Melalui kerja sama ini, Bawaslu berharap dapat mempersiapkan generasi pemilih pemula yang lebih matang, cerdas, dan memiliki pemahaman yang baik mengenai demokrasi dan penyelenggaraan pemilu. Selain itu, PGRI juga diharapkan menjadi mitra strategis Bawaslu dalam mendukung pengawasan partisipatif terhadap setiap tahapan pemilu.”
Beliau juga menambahkan bahwa keterlibatan guru dan sekolah menjadi sangat penting karena memiliki kedekatan langsung dengan generasi muda yang akan mendominasi jumlah pemilih pada pemilu mendatang.
“Demokrasi yang bersih dan berkeadilan tidak tumbuh secara otomatis. Demokrasi harus dirawat, dipelihara, dan dijaga bersama. Melibatkan PGRI dan lingkungan akademik menjadi penting karena mereka berhubungan langsung dengan anak muda dan dunia pendidikan. Dengan keterbatasan yang dimiliki Bawaslu, guru dan sekolah menjadi jembatan yang efektif dalam menyampaikan pendidikan kepemiluan dan pengawasan kepada masyarakat.”
Lebih lanjut, Ketua Bawaslu menekankan bahwa pendidikan demokrasi harus dilakukan secara berkelanjutan agar lahir generasi yang sadar akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Manggarai Barat, Kornelis Joni, S.Fil., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Bawaslu kepada PGRI sebagai mitra strategis dalam membangun kesadaran demokrasi melalui pendidikan.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat atas inisiatif membangun kemitraan dengan PGRI. PGRI berkomitmen mendorong guru-guru di setiap satuan pendidikan agar berpartisipasi aktif dalam penguatan pendidikan demokrasi serta mendukung berbagai program Bawaslu. Kami juga siap membuka ruang bagi Bawaslu untuk melaksanakan sosialisasi dan pendidikan kepemiluan di sekolah-sekolah.”
Ia menegaskan bahwa sekolah merupakan ruang yang tepat untuk menumbuhkan karakter warga negara yang demokratis, kritis, dan bertanggung jawab.

“Bawaslu menggandeng PGRI karena edukasi tentang pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil harus diimbangi dengan tanggung jawab pengawasan yang melekat pada setiap pemilih. Potensi Generasi Z yang akan mendominasi pemilih harus dimaksimalkan sebagai aset dalam pengawasan pelaksanaan pemilu. Pendidikan pengawasan pemilu perlu dilakukan sedini mungkin. Negeri ini milik kita, mari berkontribusi dan berkolaborasi agar perjalanan demokrasi kita semakin berkualitas.”
Melalui penandatanganan kerja sama ini, PGRI Kabupaten Manggarai Barat dan Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara dunia pendidikan dan penyelenggara pemilu. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami demokrasi secara konseptual, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga integritas pemilu melalui partisipasi aktif dalam kehidupan berdemokrasi. Dengan semangat kebersamaan, pendidikan menjadi jalan utama untuk merawat demokrasi, sementara guru menjadi pelita yang menuntun lahirnya warga negara yang cerdas, berkarakter, dan bertanggung jawab.
